Jumat, 18 Mei 2012

Satu Hari Libur

Ternyata menepati janji tidak semudah membuatnya ya?
Terbukti dengan pelanggaran-pelanggaran yang saya buat beberapa hari belakangan ini.
Pelanggaran untuk selalu mengunggah tulisan setiap harinya sampai hari ke tiga puluh. Hehe

Kemarin saya menghabiskan satu hari libur kenaikan Isa Almasih bersama Oino.
Oino mengunjungiku ke Bandung untuk kedua kalinya. Yay!
Dan akhirnya menghabiskan waktu dengan makan dan makan dan ngemil dan makan.
Gagal sudah rencana diet minggu ini.



Senin, 14 Mei 2012

Weekend di Bandung

Haha, tampaknya sudah beberapa hari saya tidak menyetor tulisan di blog ini ya? Harus saya akui ternyata menulis saat weekend memang sedikit sulit.
Saya akan bercerita tentang weekend kemarin. And here we go.


Weekend kemarin saya lewati di Bandung. Dua hari yang cukup menyenangkan saya pikir.
Di hari Sabtu saya ke nikahannya Mas Asgan dan di hari Minggu nya saya hanya ke event STV dan belanja beberapa pakaian. Rasanya seperti turis yang baru pertama ke Bandung.


Oke, talk about marriage.
Sabtu kemarin Saya ke nikahannya seorang teman baik saya. Asgan Riza Nasrullah namanya.
Akhirnya perjalanan cintanya berakhir juga kali ini.
Berakhir dalam artian baik. Berakhir karena dia memantapkan hati pada pilihannya.
Dan saya turut senang untuk itu.
Meirisa Hilda Sukasa nama pendampingnya kini, biasa dipanggil Ica.
Banyak cerita yang mereka lewati bersama. Beberapa saya kertahui dan beberapa lainnya tidak.
Yang pasti, saat ini mereka bahagia dengan pilihan mereka masing-masing.



Sabtu hari yang sangat menyenangkan buat akhir mingguku kemarin.
Beberapa teman UFo datang ke Bandung. Dan ah, rasanya saya sudah lama tidak tertawa sebanyak kemarin.


Selamat menikah, Mas Asgan dan Ica. Selamat menempuh hidup baru.
Berikan saya keponakan yang lucu-lucu yaa.. :D








Jumat, 11 Mei 2012

Hari Terakhirnya

Hidup itu mungkin semacam datang dan pergi.
Ada yang meninggalkan, ada yang ditinggalkan.
Seorang teman baik, atau mungkin lebih dari baik, dia special, pernah berkata pada saya di suatu malam:
"Posisi kamu lebih enak. Kamu yang meninggalkan. Aku terlalu sering menjadi pihak yang ditinggalkan".
Saat itu saya tidak bisa memilih mana yang lebih enak, meninggalkan atau ditinggalkan.
Sama tidak enaknya. Sama sedihnya. Sama sesaknya.


Saat itu mungkin di satu malam itu saya pergi meninggalkannya.
Sangat sedih. Mungkin itu kesedihan saya yang teramat sangat.
Dan kali ini terulang lagi untuk kedua kalinya.
Kali ini saya menjadi pihak yang ditinggalkan.
Dan rasanya lebih aneh.
Aneh karena kamu tidak ada di dekatnya untuk melihat punggungnya semakin menjauh.
Aneh karena kamu tidak bisa memberinya pelukan perpisahan.
Aneh karena kamu belum sempat mengucapkan sampai jumpa dan merapalkan beberapa doa untuknya.


Seorang yang mungkin lebih dari teman.
Seorang yang penah berjuang bersama di sisimu.
Seorang yang kamu tahu bisa mengajaknya tertawa bahkan sedih bersama.
Seorang yang pernah menemanimu melewatkan beberapa malam di sebuah kota.
Seorang yang kamu ajak berdebat saat pendapatmu ditolaknya.
Seorang yang bisa menjadi kakak dan adik di saat bersamaan.


Ah, saya tahu bahwa ada yang lebih baik menunggunya di sana.
Semoga sukses, my best partner in crime.
Saya pasti akan selalu kangen bekerja bersamamu.

Kamis, 10 Mei 2012

Nama

Ada beberapa kota yang kamu bisa memberinya nama sesuai perannya.
Saya menamai Bekasi sebagai rumah dan Jakarta sebagai tumbuh kembang.
Kota dimana saya harus pulang dan kota dimana saya bisa 'menikmati' serunya hidup.
Tempat dimana saya membentuk impian.






Saya namai Bandung sebagai belajar. Di sini saya banyak belajar.
Bukan belajar seperti di sekolah memang. Belajar tentang hidup.
Saat kamu dinilai karena hasil kerjamu. 
Bukan lagi dinilai karena fisikmu, apa yang kamu punya dan bagaimana latar belakang keluargamu.
Saat semua mata punya penilaiannya masing-masing atas apa yang kamu lakukan.
Bagaimana kamu memperlakukan seseorang, atau bahkan tentang bagaimana kamu memimpin mereka.






Dan Jogjakarta, ah entah bagaimana saya menamainya.
Biarkan saya menyebutnya sebagai kota dengan sejuta kenangan.
Tempat saya ditempa segala pengharapan.



Rabu, 09 Mei 2012

Internet

Akhir-akhir ini internet kost selalu bermaslah.
Selalu pulang kantor dengan rencana rapi,
nanti sampai kost mau lanjut kerja, jam 11 mau nulis blog.
Selalu seperti itu.
Nyatanya keadaan tidak selalu seindah rencananya.
Alam ternyata berkonspirasi agar aku tidak menulis lagi malam ini.


Internet.
Ternyata saya segitu membutuhkannya.
Saya yang katanya hidup di era modern.
Saya begitu membutuhkannya. Ternyata.

Senin, 07 Mei 2012

Menjadi Masokis

Kemarin saya mengalami operasi kecil sekali lagi.
Operi gusi untuk membuka geraham bungsu saya.
Dan saya kemudian menyadari beberapa hal.
Dulu saya taku banget sama yang namanya dokter gigi.
Buat saya, tidak ada lagi yang lebih menyeramkan dibandingkan dengan dokter gigi.
Tapi semakin dewasa saya semakin berani dengan dokter gigi.
Dulu ibu saya sampai harus berada di samping saya untuk menenangkan saya yang biasanya menangis kencang.

Tapi kali ini berbeda.
Dengan langkah gagah berani saya memasuki praktek dokter gigi,
Duduk di kursi hidroliknya, dan membuka mulut saya bahkan sebelum disuruh.
Dokter gigi saya memeriksa sebentar, menyentuhkan alat-alatnya yang menyeramkan ke beberapa gigi saya,
Dan pada akhirnya menyuruh asistennya untuk mengambilkan obat bius.

Saat itu saya baru menyadari masalah apa yang akan terjadi berikunya.
Saya panik, telapak tangan tiba-tiba basah.
Tapi saya mencoba untuk tetap terlihat santai.
Asisten sang dokter gigi mendekati kursi hidrolik saya, dan terlihat memberikan suntikan kepada dokter.
Suntikan itu kecil, berujung bengkok dan berisi cairan berwarna cokelat keruh.
Dokter harus menyuruh saya membuka mulut kali ini, dan dengan santai menyuntikkan anasthesi ke beberapa bagian dalam mulut saya.
Ada tiga titik yang sangat sakit seingat saya.
Tapi saya terlalu gengsi untuk menangis kali ini.
Reaksi saya kali itu hanya menggerakkan kali sedikit, dengan tangan semakin basah.

Dokter selesai menyuntikkan anasthesi ke dalam mulut saya, ia meminta saya untuk berkumur.
Saya menurutinya.
Tidak beberapa lama saya merasa lidah pipi saya mati rasa dan lidah menebal.
Anasthesi sudah bekerja.

Dokter meminta saya untuk berbaring lagi, dan membuka mulut saya.
Ia sudah dua kali meminta itu kepada saya.
Hitungan itu kuhitung betul. Dua kali.
Dengan bebas ia memasukkan alat entah apa ke dalam mulut saya.
Menekannya sedit, atau banyak? Entah lah.
Saya tidak merasakan sakit apapun, tapi masih bisa merasakan tekananya sedikit.

Dan dokter mulai bekerja dengan tenang.
Sesekali ia menyuruh asistennya untuk membantunya.
Dan dengan menit yang cukup lama, operasi kecil itu selesai.
Seperti dokter gigi manapun, dokter ini juga mempelihatkan 'hasil kerjanya' kali ini.
Dia menaruh potongan gusi kecil di atas kain kassa sambil bilang, "ambil. Buat kenang-kenangan".
Saya pun kali itu cuma bisa menerima kassa kecil itu sambil merasakan kebas di sekitar mulut.

Saya kembali duduk di ruang tamu sang dokter.
Menunggu ayah saya yang juga teman dokter gigi selesai mengobrol.
Sesekali mereka mengobrolkan orang yang saya kenal, selebihnya berbicara entah tentang siapa.

Kemudian saya berpikir, kali ini saya hebat juga ya?
Tidak takut atau pun menangis ketika ke dokter gigi kali ini.
Saya percaya bahwa anasthesi akan membantu saya untuk tidak merasakan sakit sedikitpun.
Tapi ada satu hal yang saya lupa, bahwa proses memasukkan anasthesi itu yang sangat menyiksa.
Dan saya mulai mengingat-ingat rasa saat saya dibius lokal.
Kalau saya boleh jujur, saya mulai menikmati rasa sakitnya pada satu titik terakhir, yang juga titik yang paling nyeri saat disuntik.

Kata seseorang, 'wanita diciptakan untuk menahan sakit tiga kali lebih baik dari pada pria'. Mungkin karena itu, atau mungkin saya sudah terlali terbiasa dengan rasa sakit yang lain? Haha
Semacam menikmati menjadi masokis?

Jumat, 04 Mei 2012

Belajar

Kehidupan ini adalah ladang ilmu, tempatmu belajar tentang banyak hal.
Ladang belajar menanam apa saja,
Dan belajar menuai apa yang kamu tanam sebelumnya.


Kehidupan ini adalah ladang belajar.
Belajar berinteraksi dengan berbagai macam penduduknya.
Ada yang tua, muda, tinggi, pendek, pintar, bodoh dan lain sebagainya.
Sapa para penduduk ladang dan dapatkan pelajaran dari ceritanya.


Kehidupan ini adalah ladang belajar.
Ladang belajar dan mengajari.
Ladang pertanyaan. Bertanya dan ditanya.
Ladang inspirasi. Menginspirasi atau terinspirasi.


Selamat belajar.




NB: Post ini seharusnya diunggah pada saat Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei.